IPS KELAS V MATERI POKOK Perjuangan Para Tokoh Pejuang pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang

Perjuangan Para Tokoh Pejuang pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang

Indonesia yang dahulu disebut Nusantara merupakan suatu wilayah yang sangat subur dan banyak menghasilkan rempah-rempah. Waktu itu, wilayah Nusantara dipimpin oleh raja-raja sebagai penguasa negara atau penguasa wilayah. Banyak pedagang, baik dari wilayah Nusantara sendiri maupun dari bangsa lain.
Pedagang Eropa yang datang pertama kali memasuki wilayah Nusantara adalah bangsa Portugis dan Spanyol. Kedua bangsa ini bersaing untuk merebut daerah hasil rempah-rempah. Lalu, bangsa Spanyol tersingkir dan bangsa Portugis dapat menguasai daerah penghasil rempah-rempah. Namun, bangsa Indonesia dengan para raja dan penguasa daerah sebagai pemimpin tidak senang dengan kelakuan Portugis yang ingin menjajah. Rakyat Indonesia pun berjuang mengusir Portugis dari bumi Nusantara dengan mengangkat senjata dan mengadakan perlawanan.
Perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia pada waktu itu antara lain:
1.perjuangan Pati Unus dari Demak menentang penjajahan Portugis (1513);
2.perjuangan Panglima Fatahillah dari Kerajaan Demak menentang penjajahan Portugis (1526-1527);
3.perjuangan Sultan Baabullah dari Kerajaan Ternate menentang penjajahan Portugis (1575);
4.perjuangan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh menentang penjajahan Portugis (1607-1636).
Para pedagang dari negeri Belanda juga berduyun-duyun memasuki wilayah Nusantara, maka terjadilah persaingan yang sangat ketat di antara pedagang kedua negara tersebut. Pada akhirnya, para pedagang dari Portugis tersingkir dalam perebutan kekuasaan di wilayah Nusantara. Secara lambat tapi pasti, Belanda mulai menancapkan kuku kekuasaannya untuk melakukan penjajahan. Penjajahan Belanda terhadap Indonesia berlangsung kurang lebih 350 tahun.

1. Masa Penjajahan Belanda
Kedatangan bangsa Belanda ke tanah Nusantara dimulai pada tahun 1596. Mereka ingin melakukan hubungan dagang dengan penduduk yang ada di wilayah Nusantara. Untuk pertama kalinya beberapa kapal Belanda singgah di Pelabuhan Banten. Lama kelamaan, kapal dagang Belanda yang datang semakin bertambah.
Untuk mencegah adanya persaingan yang tidak sehat di antara pedagang Belanda dan pedagang asing lainnya (khususnya Portugis dan Spanyol), maka para pedagang Belanda mendirikan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). VOC, yaitu kongsi atau perserikatan perdagangan Belanda yang ada di wilayah Nusantara.
VOC didirikan pada tahun 1602 dan dipimpin oleh seorang Gubernur Jenderal yang bernama Pieter Both. Akan tetapi, pada tanggal 31 Desember 1799 VOC dibubarkan.
Kedatangan bangsa asing ke wilayah Nusantara pada awalnya disambut dengan gembira oleh rakyat Indonesia. Mereka semua dating dengan tujuan melakukan perniagaan, yaitu jual beli rempah-rempah yang memang sangat dibutuhkan oleh bangsa Eropa. Akan tetapi karena keangkuhan dan keserakahannya, bangsa Eropa menerapkan system monopoli.
Pada saat sistem ini diterapkan, mulailah ada reaksi dari rakyat Indonesia. Apalagi setelah mereka menerapkan sistem kolonial. Rakyat Indonesia bukan saja bereaksi, tetapi juga mengadakan perlawanan bersenjata.
Adapun perlawanan rakyat Indonesia dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang, antara lain sebagai berikut.
a. Perlawanan pada Abad ke-17 dan Abad ke-18
1) Thomas Matulessy (Pattimura) di Maluku
Rakyat Maluku telah lama mengalami penindasan dari bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda sejak abad ke-16. Rakyat Maluku sadar betul apa makna penjajahan yang selama ini dialaminya. Betapa hebatnya penderitaan rakyat Maluku ketika masa Pelayaran Hongi.
Rakyat Maluku semakin gelisah ketika adanya paksaan untuk menjadi serdadu (tentara) Belanda yang akan dikirimkan ke Pulau Jawa. Kesabaran rakyat Maluku telah habis. Mereka pun segera berencana untuk melancarkan perlawanan.
Pada tanggal 3 Mei 1817, ratusan pemuda dari Haria mengadakan pertemuan di dalam hutan yang terletak antara negeri Tiow dan negeri Paperu. Pertemuan itu memutuskan untuk menyerang dan menyerbu Benteng Duurstede di Pantai Saparua yang merupakan lambing penjajahan Belanda. Pertemuan itu juga memutuskan untuk mengajak seluruh rakyat Maluku untuk melawan penjajahan Belanda.
Rakyat Maluku bangkit menentang Belanda pada tanggal 16 Mei 1817 di bawah pimpinan Pattimura. Beliau adalah seorang Kristen yang taat, pandai dan cekatan. Dilahirkan pada tanggal 8 Juni 1783 dengana nama Thomas Matulessy. Ia pernah menjadi tentara Inggris dengan pangkat sersan mayor. Kemudian ia terkenal dengan sebutan Kapitan Pattimura. Di dalam pertempuran itu semua penghuni benteng mati terbunuh. Benteng dihancurkan, bahkan Residen Belanda yang bernama Van den Berg tewas dalam peristiwa itu.
Kemudian Belanda mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Begitu pasukan bantuan itu mendarat di Muara Sungai Waisisil, langsung dipukul mundur oleh Pattimura. Mayor Beetjes tewas dalam pertempuran tersebut. Pasukan Belanda lainnya yang dipimpin Overste Meyer dan Laksamana Buykes juga dapat dipukul mundur.
Raja-raja kecil di Maluku turut membantu perjuangan Pattimura, seperti Raja Lha, Nolot, Tuhaja, Itawaku dan Ihamaku. Selain itu juga Pattimura dibantu oleh Philip Latumahimma dan seorang putri raja Maluku yang bernama Martha Khristina Tiahahu yang berusia 18 tahun.
Belanda merasa kewalahan dengan perlawanan dari pasukan Pattimura ini. Lalu, Belanda mengajak Pattimura untuk berunding, namun ditolaknya dengan tegas. Belanda semakin meningkatkan serangannya untuk mendesak Pattimura. Akibatnya beberapa pimpinan pasukan Pattimura dapat ditangkap. Pattimura juga akhirnya dapat ditangkap, beliau dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di depan Benteng Viktoria pada tanggtal 16 Desember 1817. Penangkapan Pattimura disebabkan adanya pengkhianatan dari Raja Boi. Ia menunjukkan tempat pertahanan Pattimura kepada Belanda.
Begitu juga dengan Raja Paulus Tiahahu, ayah Martha Khristina Tiahahu ditembak mati di hadapan rakyatnya. Martha Khristina Tiahahu sendiri diasingkan ke Pulau Jawa, namun sebelum sampai di Pulau Jawa beliau wafat, yaitu pada tanggal 2 Januari 1818.

2) Tuanku Imam Bonjol
Tuanku Iman Bonjol adalah pemimpin Perang Padri tahun 18211837. Penyebab timbulnya Perang Padri adalah adanya pertentangan antara kaum adat dengan kaum Islam (ulama). Kaum adat terdiri Atas raja dan para pengikutnya, sebagian besar masyarakat Minangkabau dikuasai oleh kaum adat.
Perbuatan dan adat kebiasaan para penghulu adat sangat bertentangan  dengan hukum-hukum Islam. Seperti kebiasaan hidup mewah, berjudi, minum minuman keras dan menyambung ayam.
Sikap hidup yang demikian menimbulkan kerawanan sosial. Di dalam masyarakat, sering  terjadi pencurian, perampokan serta menimbulkan kegelisahan masyarakat. Akibat yang lebih jauh lagi adalah membawa kemelaratan terhadap rakyat.
Pada awal abad ke-19 terjadi perubahan. Pada saat itu mulai banyak orang Minangkabau yang pergi menunaikan ibadah haji. Selama menunaikan rukun Islam ke-5 itu. Di tanah suci Arab sedang terjadi gerakan Wahabi, yaitu gerakan yang menghendaki agar ajaran Islam dilaksanakan secara murni sesuai dengan Alquran dan Hadis Rosul. Sepulangnya dari haji, orang Minangkabau menyebarkan ajaran Wahabi tersebut. Para pengikutnya disebut Kaum Padri.
Kaum Padri menentang kebiasaan dan adat istiadat yang merusak masyarakat, terutama yang bertentangan dengan ajaran Islam. Pimpinan kaum Padri adalah Peta Syarif. Beliau dikenal dengan nama Iman Bonjol atau Tuanku Imam Malim Besar. Beliau dilahirkan pada tahun 1772 di Tanjung Bunga Pasaman, Sumatera Barat. Iman Bonjol mewajibkan pengikutnya memakai pakaian dan sorban putih. Oleh karena itu, mereka disebut kaum Putih.
Perbedaan antara kedua kaum itu menimbulkan permusuhan yang akhirnya meningkat menjadi perang saudara. Perang saudara ini menjadi meningkat setelah kekuasaan asing campur tangan. Belanda memanfaatkan pertentangan yang sedang terjadi di Minangkabau saat itu. Pada tanggal 10 Februari 1821, Belanda mengadakan perjanjian antara kaum adat dengan Gubernur Jenderal Belanda. Atas dasar perjanjian itulah beberapa daerah dikuasai oleh Belanda. Mereka pun bersiap-siap untuk menghadapi kaum Padri.
Kaum Padri mengetahui rencana tersebut, mereka segera membuat benteng yang besar dan luas di daerah Bonjol. Akhirnya, Belanda menyerang kaum Padri dengan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Raaf. Pertempuran dasyat pun tak bisa dihindarkan lagi.
Tuanku Imam Bonjol menyambut Belanda dengan perlawanan yang gigih. Imam Bonjol dibantu oleh sejumlah ulama dan penghulu yang memihak kepadanya, seperti Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik. Belanda mendirikan benteng di Bukittinggi dan Batusangkar. Walaupun demikian, Belanda tidak dapat mengalahkan pasukan kaum Padri. Dalam pertempuran itu, Tuanku Nan Renceh gugur dan menjadi pahlawan bangsa.
Pada tahun 1825, di Pulau Jawa sedang terjadi Perang Diponegoro. Belanda menghadapi kesulitan. Mereka harus mengerahkan kekuatan militernya ke Pulau Jawa. Oleh karena itu, Belanda bermaksud mengadakan perjanjian damai dengan Imam Bonjol.
Pada tanggal 29 Oktober 1825, Belanda berhasil mengadakan perjanjian damai dengan kaum Padri yang terkenal dengan Perjanjian Padang. Isi perjanjian tersebut adalah  “Kedua belah pihak sepakat mengadakan gencatan senjata.” Setelah perjanjian itu, selama 4 tahun tanah Minangkabau aman, tidak ada peperangan antara kaum Padri dengan Belanda.
Ketika Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830, pasukan Belanda dialihkan untuk menyerang Imam Bonjol. Pada pertengahan tahun 1832, Belanda mengirimkan pasukannya ke Sumatera Barat. Benteng Padri yang kuat itu pun berhasil direbut Belanda. Namun, pada tahun 1833 benteng itu dapat direbut kembali oleh pasukan Imam Bonjol dari tangan Belanda.
Belanda terus berusaha menundukkan Iman Bonjol. Kini, Belanda menggunakan siasat Benteng. Pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal Michiels. Ketika itu, kaum Padri sudah bersatu dengan kaum adat untuk bersama-sama melawan Belanda.
Walaupun senjata pasukan Belanda lengkap dan banyak, tetapi mereka baru berhasil menguasai benteng Bonjol pada bulan Oktober 1837. Imam Bonjol berhasil ditangkap Belanda pada tanggal 25 Oktober 1837.
Pada tanggal 19 Januari 1839, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon Maluku. Kemudian pada tahun 1841, dipindahkan ke Manado di Sulawesi Utara. Pada tanggal 6 November 1864, beliau wafat dalam usia 92 tahun. Dimakamkan di kampung Pineleng dekat Kota Manado.

3) Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro semasa kecilnya bernama Ontowiryo. Dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 11 November 1785. Beliau adalah putra Sultan Hamengku Buwono III. Beliau mendapat pendidikan agama Islam, keprajuritan dan kepahlawanan. Juga budi pekerti, cinta kepada sesama manusia, cinta bangsa dan cinta tanah air.
Berkat pendidikan nenek buyutnya, Pangeran Diponegoro menyadari benar bahwa kemerosotan bangsa dan negaranya adalah akibat adanya penjajahan Belanda. Alasan lain yang mendorong Pangeran Diponegoro melakukan perlawanan terhadap Belanda sangatlah banyak. Kerajaan Mataram yang demikian besarnya pecah menjadi 4 kerajaan kecil akibat campur tangan Belanda, yaitu Kerajaan Yogyakarta, Kerajaan Surakarta, Kerajaan Paku Alam, dan Kerajaan Mangkunegaraan. Bahkan Patih Kerajaan Yogyakarta yang bernama Danureja IV mendukung penjajahan Belanda. Ia turut serta memeras rakyat.
Oleh karena itu, Pangeran Diponegoro tidak menyukai terhadap patih kerajaan tersebut. Kemarahan Pangeran Diponegoro terhadap Belanda memuncak ketika Patih Danureja IV, suruhan Daendels memasang tonggak-tonggak di atas tanah milik Pangeran Diponegoro di Tegalejo. Hal itu dilakukan tanpa seizin Pangeran Diponegoro terlebih dahulu.
Pada tanggal 20 Juli 1825, pasukan Belanda melakukan serangan ke Tegalrejo. Hal ini membangkitkan perlawanan Pangeran Diponegoro. Daerah Yogyakarta, Surakarta, Madiun, Kedu dan Banyumas juga ikut berontak. Kedu dijadikan pusat perlawanan dan pemerintahan Pangeran Diponegoro. Markas besarnya terletak di Gunung Manoreh.
Perlawanan Diponegoro dibantu pula oleh teman-temannya. Pangeran Mangkubumi dan Kiai Maja sebagai penasehat. Pangeran Ngabehi Jayakusuma dan  Sentot Alibasya Prawirodirjo sebagai panglima perang. Ada pula bantuan dari Imam Musba dan Prawirokusumo.
Pengaruh perlawanan Pangeran Diponegoro sampai pantai utara Jawa. Rakyat mengangkat Pangeran Diponegoro menjadi sultan dengan gelar Sultan Abdulhamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama.
Perang Diponegoro berlangsung bertahun-tahun, mulai tanggal 20 Juli 1825 sampai 28 Maret 1830. Siasat Perang Diponegoro adalah gerilya. Markasnya terus berpindah-pindah, mula-mula di Tegalrejo kemudian pindah ke Selarong, Plered, Sala, Kedu, Bagelen, Banyumas, Tegal dan Pekalongan.
Belanda mendatangkan serdadu dari negerinya untuk mengadakan tekanan dan gerak cepat. Beberapa daerah dapat dikuasasi Belanda, yaitu Madiun, Bojonegoro, Pati, Semarang dan Pekalongan. Bahkan, Belanda terus-menerus mengadakan tekanan agar pasukan Pangeran Diponegoro keluar dari Yogyakarta dan Surakarta. Siasat Belanda adalah siasat Benteng (Benteng Stelsel). Akibatnya, daerah gerilya semakin sempit dan tidak dapat bergerak.
Pada tahun 1829, Kiai Maja tertangkap oleh Belanda, kemudian diasingkan ke Manado. Sebulan kemudian, Sentot Alibasya justru menyerah kepada Belanda. Ia dikirim ke Sumatera untuk memerangi Imam Bonjol dalam Perang Padri. Akhirnya, ia wafat di Bengkulu. Walaupun sudah ditinggalkan oleh para pembantunya, Pangeran Diponegoro terus berjuang.
Panglima tentara Belanda, Jenderal de Kock meminta agar Pangeran Diponegoro mau melakukan perundingan dengan menjamin keselamatannya. Perundingan dilakukan di Magelang, namun Jenderal de Kock mengingkari janjinya. Secara tiba-tiba seluruh pengikut Pangeran Diponegoro dilucuti senjatanya dan Pangeran Diponegoro ditangkap. Dari Magelang, Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dengan kapal kemudian ke Batavia. Dari Batavia, Pangeran Diponegoro dibawa ke Manado (1830), kemudian dipindahkan ke Ujungpandang (1834). Beliau ditahan di Fort Rotterdam (benteng Makassar). Setelah ditahan selama 24 tahun oleh Belanda, pada tanggal 18 Januari 1855 beliau wafat dan dimakamkan di Kota Ujungpandang.
Perlawanan Pangeran Diponegoro ini ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar dan luas. Bagi Belanda, Perang Diponegoro telah menelan korban yang cukup besar, yaitu telah kehilangan 8.000 orang Eropa dan 7.000 orang pribumi serta menelan biaya yang tinggi, yaitu 20 juta gulden.

4) Pangeran Antasari
Mulai abad ke-17, VOC telah melakukan hubungan dagang dengan rakyat Banjarmasin. Antara lain jual beli rotan, intan, emas dan lada. Bahkan, pada saat Sultan Rahmatullah berkuasa, VOC diberi izin mendirikan kantor dagang. Namun, ketika VOC menerapkan sistem monopoli, rakyat Banjarmasin melakukan reaksi penolakan. Akhirnya, VOC menyingkir dari Banjarmasin.
Sultan Tahmiditillah II bersengketa dengan Pangeran Amir, lalu Belanda mengambil kesempatan. Belanda memihak kepada Sultan Tahmiditillah II, Pangeran Amir berhasil ditangkap dan diasingkan ke Sailan. Berkat bantuannya itu, Belanda mendapat daerah Pagatan, Pasir, Kotawaringin, dan lainnya. Akhirnya, Banjar dikuasai Belanda sejak tahun 1636.
Pada tahun 1816, Belanda menerima kembali kekuasannya dari Inggris. Dengan segera Belanda mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan yang ada di wilayah Nusantara termasuk dengan Kesultanan Banjar. Pada saat itu, Kesultanan Banjar dipegang oleh Sultan Adam (1825-1857).
Pada tahun 1826, Belanda berhasil menguasai Kesultanan Banjar. Oleh karena itu, Pangeran Antasari meninggalkan keraton (pasirapan). Kemudian beliau hidup di pedesaan bersama-sama rakyat biasa. Jadi, beliau mengetahui benar penderitaan rakyat. Pangeran Antasari adalah putra dari Pangeran Mashud dan cucu dari Pangeran Amir.
Pada masa berkuasa, Sultan Adam telah mengangkat Pangeran Abdurakhman sebagai putra mahkota. Akan tetapi, pada tahun 1852 Pangeran Abdurakhman wafat dan meninggalkan 2 orang putra, yaitu Pangeran Tamjidillah dan Pangeran Hidayat.
Pada tahun 1857, Sultan Adam meninggal dunia. Di dalam surat wasiatnya beliau menyatakan bahwa yang akan menggantikannya adalah Pangeran Hidayat. Pihak Belanda melalui residennya yang bernama Van Hengst tidak setuju. Belanda lebih menyukai Pangeran Tamjidillah untuk menjadi sultan Banjar. Pangeran Tamjidillah sendiri tidak disukai oleh rakyat karena tidak taat beragama, suka hidup berfoya-foya dan sangat dekat dengan Belanda.
Pada bulan April 1859, pasukan Pangeran Antasari menyerang pos-pos Belanda. Perlawanan rakyat bergelora dan meluas kemana-mana. Benteng Belanda di Pangaron digempur, kemudian menguasai Muning dan Martapura. Beliau dibantu oleh Surapati, Kiai Demang Leman, Kiai Adipati Mangkunegara, Kiai Sultan Kara, Kiai Langlang, Haji Masrum, Haji Bayusin, Tumanggung Singapati dan Cakrawati.
Taktik perangnya adalah siasat gerilya. Tumanggung Surapati berhasil membakar kapal Belanda, yaitu Onrust di Sungai Barito. Pangeran Hidayat kemudian bergabung melawan Belanda. Mengetahui kejadian itu, Belanda segera menghapuskan Kesultanan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860. Sambil terus melakukan penekanan, Belanda juga membujuk Pangeran Hidayat untuk berunding. Akhirnya, Pangeran Hidayat ditangkap dan diasingkan ke Cianjur Jawa Barat.
Pangeran Antasari terus melakukan perlawanan, harapan rakyat Banjar untuk mengangkat Pangeran Hidayat menjadi Sultan sudah hilang. Untuk itu, rakyat mengangkat Pangeran Antasari untuk menggantikannya. Ia pun memperoleh gelar Panembahan Amiruddin Khalifat ul Mu’minin sebagai pengganti Sultan Adam.
Walaupun sudah diangkat menjadi sultan, Pangeran Antasari tidak mau berdiam diri di keraton. Beliau memilih tinggal di benteng-benteng atau markas-markas pertahanan di dalam hutan belantara. Beliau terus berjuang walaupun usianya semakin tua. Pada tanggal 11 Oktober 1862, Pangeran Antasari wafat di Hulu Teweh (Kalimantan Selatan).
Perlawanan rakyat Banjar terus berkobar. Walaupun akhirnya Belanda dapat menangkap beberapa pemimpin pasukan Pangeran Antasari yang bermarkas di gua-gua, yaitu Kiai Demang Leman dan Tumanggung Aria Pati. Tahun 1866, Haji Buyasin gugur di medan perang. Sementara Kiai Demang Leman digantung Belanda. Putra-putra Pangeran Antasari melanjutkan perjuangan ayahandanya, antara lain Sultan Seman hingga meninggalnya pada tahun 1905.

5) Raja Buleleng
Hubungan masyarakat Bali dengan bangsa Belanda terjadi pada abad ke-17. Ketika itu, VOC sering mengadakan hubungan dagang. Sering kali VOC berusaha untuk mengadakan perjanjian dengan raja-raja Bali, tetapi tidak berhasil. Di Pulau Bali pada saat itu terdapat beberapa kerajaan, antara lain Kerajaan Buleleng, Karang Asem, Klungkung, Gianjar, Badung, Tabanan, Mengwi dan Jembrana.
Usaha Belanda untuk mengadakan perjanjian dengan kerajaan yang ada di Bali baru berhasil pada tahun 1841. Perjanjian itu ditandatangani oleh Raja Klungkung, Badung, Buleleng dan Karang Asem. Dalam perjanjian itu disebutkan raja-raja Bali mengakui kekuasaan Belanda dan mengizinkan pengibaran bendera Belanda di daerahnya.
Masalah yang menyulitkan hubungan Belanda dengan Kerajaan Bali adalah berlakunya Hak Tawan Karang, yaitu hak Raja Bali untuk merampas perahu yang terdampar di wilayahnya. Belanda banyak mengalami kerugian dengan berlakunya Hak Tawan Karang tersebut. Pada tahun 1844, di Pantai Pracak dan Sangit terjadi perampasan terhadap kapal-kapal Belanda yang terdampar. Asisten Residen Banyuwangi Ravia de Lignij datang ke Bali untuk membuat perjanjian penghapusan Tak tawan Karang ini. Dia pun menuntut Kerajaan Bali tunduk kepada kekuasaan Belanda. Raja Buleleng dan patihnya menolak kedua tuntutan itu. Apalagi Belanda menuntut ganti rugi atas kapal-kapalnya yang dirampas.
Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made dan patihnya I Gusti Ketut Jelantik segera menyiapkan pasukannya beserta perlengkapan untuk menentang Belanda. Pada tanggal 24 Juni 1846, Belanda mengirimkan ultimatum agar dalam tempo 3 x 24 jam, Raja Buleleng mengakui kekuasaan Belanda dan menghapuskan Hak Tawan Karang. Namun hingga batas waktu tanggal 27 Juni 1846, Raja Buleleng tetap menolak. Selain itu, Raja Karang Asem pun menentang Belanda.
Tepat tanggal 27 Juni 1846, Belanda mengirim pasukannya dan mendarat di pantai Buleleng, bagian utara Bali. Pertempuran berjalan sengit dan meluas sampai ke kampung-kampung dan sawah-sawah. Belanda berhasil menekan perlawanan rakyat Bali, bahkan berhasil menduduki benteng prajurit Bali. Belanda meneruskan penyerangannya ke Singaraja, ibu kota Kerajaan Buleleng. Pada tanggal 29 Juni 1846, istana raja dapat diduduki Belanda.
Raja Buleleng dan patihnya beserta pasukannya terpaksa mundur ke Benteng Jagaraga. Jatuhnya Benteng Jagaraga memengaruhi raja-raja yang lain untuk bersikap lemah. Pada tanggal 20 September 1906, Belanda menyerang Kerajaan Badung yang masih menggunakan Hak Tawan Karang. Keluarga kerajaan menyambut kedatangan Belanda dengan Perang Puputan, yaitu perang sampai tetes darah penghabisan. Akhirnya pada awal abad ke-20, seluruh Kerajaan Bali dapat ditundukkan oleh Belanda.

6) Perlawanan Rakyat Aceh
Perlawanan rakyat Aceh merupakan yang terberat yang dirasakan oleh Belanda. Pada tahun 1873, Belanda mengirim ekspedisi militer pertama ke Aceh dan mendapat perlawanan dari rakyat Aceh. Rakyat Aceh berlindung di sekitar Mesjid Raya Aceh. Dalam pertempuran itu, pasukan rakyat Aceh berhasil menembak Jenderal Kohler hingga tewas. Akhirnya, serangan Belanda pertama itu tidak berhasil.
Ekspedisi militer kedua terjadi pada tahun 1874, dipimpin oleh Mayor Jenderal Van Swieten. Pertempuran terjadi kembali di sekitar Mesjid Raya Aceh. Pasukan rakyat Aceh dipimpin oleh Panglima Polim. Belanda mengarahkan serangannya ke istana. Melalui pertempuran yang berjalan sengit, istana dapat dikuasai oleh Belanda.
Perlawanan terhadap Belanda terus terjadi di mana-mana, antara lain:
a) perlawanan rakyat Aceh di daerah Pidie dipimpin oleh Teungku Cik Di Tiro;
b) Teuku Umar dengan istrinya Cut Nyak Din memimpin di Aceh bagian barat.

Walaupun istana telah direbut Belanda, tetapi perjuangan rakyat Aceh terus berkobar. Daerah-daerah di luar kota dikuasai sepenuhnya oleh para pejuang Aceh. Mereka dipimpin oleh para teuku (panglima) dan teungku (ulama).
Mayor Jenderal Van Swieten diganti oleh Jenderal Pel. Namun Jenderal Pel tewas dalam pertempuran di Tonga. Melihat kenyataan itu, pemerintah kolonial Belanda akhirnya mengirim seorang misionaris ahli agama Islam untuk mempelajari adat istiadat rakyat Aceh. Ia bernama Dr. Snouck Hurgronje dengan menggunakan nama samaran Abdul Gafar. Ia meneliti kehidupan rakyat Aceh dengan ikut berbaur ke dalamnya. Hasil penelitiannya adalah sebagai berikut:
a)seorang sultan tidak mempunyai kekuasaan tanpa adanya persetujuan dari bawahannya;
b)ulama sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Berdasarkan hasil kerja Dr. Snouck Hurgronje ini, Belanda menyusun kebijakan sebagai berikut:
a)melakukan politik memecah kekuatan rakyat;
b)ulama harus dihadapi dengan kekuatan militer;
c)dipisahkannya kaum ulama dengan bangsawan;
d)dibukanya kesempatan bagi anak-anak bangsawan untuk dijadikan pamong praja.

Dengan tekanan yang keras, satu per satu pimpinan rakyat Aceh dapat ditaklukan. Baik dengan jalan ditangkap maupun menyerahkan diri. Dengan hilangnya para pemimpin rakyat Aceh, akhirnya Aceh dapat dikuasai oleh Belanda pada tahun 1904.
Demikianlah tidak ada satu pun rakyat atau kerajaan dan penguasa di wilayah Nusantara yang menyerah begitu saja kepada penjajah. Mereka berjuang mempertaruhkan segala harta, masa depan, bahkan nyawa untuk membela dan mempertahankan kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.

b. Perlawanan pada Abad ke-20
Pada tahun 1900, di saat bangsa Indonesia mulai terbuka dalam berpikir, maka cara perjuangan untuk merebut kemerdekaan juga mulai menggunakan pendekatan organisasi pergerakan. Hal itu didukung juga oleh perubahan kebijakan dari penjajah Belanda dengan mengizinkan berdirinya sekolah pribumi. Sejarah mencatat beberapa organisasi pergerakan kemerdekaan yang mempengaruhi perjalanan bangsa Indonesia sampai dengan tercapainya kemerdekaan Indonesia.
Adapun organisasi pergerakan tersebut antara lain adalah Budi Utomo, Sarekat Islam, Muhamadiyah, Gerakan Pemuda,Taman Siswa, Gerakan Wanita, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Gerakan Buruh. Sejarah bangsa Indonesia mencatat beberapa tokoh bangsa dengan segala perjuangan dan pengorbanannya. Mereka merelakan berbagai kepentingan pribadinya untuk membela rakyat. Tokoh-tokoh tersebut antara lain sebagai berikut.

1) Raden Ajeng Kartini
R.A. Kartini adalah putri Bupati Jepara, Raden Mas Ario Adipati Sostroningrat. Dilahirkan tanggal 21 April 1879 di Mayong Kabupaten Jepara. Beliau adalah perintis kemajuan wanita Indonesia dengan perjuangan emansipasi wanita. Beliau mempunyai cita-cita mengangkat derajat kaum wanita agar mempunyai hak dan kecakapan yang sama dengan kaum pria. Beliau berkeinginan untuk sekolah, namun dilarang oleh orang tuanya. Sebagai seorang gadis, beliau harus menjalani masa pingitan sampai masa pernikahan. Hal ini merupakan kewajiban yang harus dijalani oleh setiap perempuan pada masa itu.
Kegemaran beliau adalah membaca. Dengan membaca, pikiran menjadi terbuka lebar. R.A. Kartini dapat membandingkan kemajuan yang dicapai wanita yang ada di negeri Barat dengan wanita di Indonesia. Sejak saat itulah timbul niatnya untuk mendirikan sekolah bagi kaum wanita. Bersamaan dengan itu, Ayahnya meminta agar R.A. Kartini menikah dengan Bupati Rembang yang bernama Adipati Joyodiningrat.
Untung saja, R.A. Kartini mendapat suami yang  baik. Beliau menikah dengan orang yang memahami betul keinginannya. Sebagai permulaan dibukalah sekolah Kartini di rumahnya.
Selanjutnya, bermunculan sekolah Kartini di berbagai daerah, seperti di Semarang, Yogyakarta, Solo, Malang, Madiun, Cilacap, dan lain-lain.
Sejak masih muda, R.A. Kartini selalu melakukan korespondensi dengan teman-temannya di negeri Belanda. Di dalam suratnya, R.A. Kartini selalu menuliskan keinginannya untuk memajukan kaum wanita di Indonesia. Sekarang, isi surat-suratnya itu diterbitkan dalam sebuah buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.
R.A. Kartini meninggal pada tanggal 17 September 1904 dalam usianya yang masih muda, yaitu 25 tahun. Sebagai penghargaan dan penghormatan kepada beliau, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai hari Kartini.

2) Dewi Sartika
Dewi Sartika adalah putri dari Raden Rangga Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas. Lahir pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat. Beliau merupakan tokoh perempuan Indonesia.
Selama hidupnya, ia berusaha memperjuangkan kemajuan kaun wanita Indonesia agar memiliki kedudukan dan derajat yang sama dengan kaum pria. Sejak itulah, beliau bercita-cita ingin mendirikan sekolah perempuan.
Akhirnya, cita-cita tersebut dapat dicapai pada usia ke-18 tahun. Tepatnya dengan didirikan Sakola Istri  (sekolah perempuan) pada tanggal 16 Januari 1904. Pada tahun 1910, sekolah ini berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Gerakan yang dilakukan beliau diikuti oleh tokoh-tokoh lain di Jawa Barat dan Sumatera.

3) Ki Hajar Dewantara
Nama lain dari beliau adalah Suwardi Suryaningrat. Lahir tanggal 2 Mei 1889 dan dibesarkan di lingkungan keluarga bangsawan Yogyakarta. Bersama dengan Douwes Dekker dan Dr. Cipto Mangunkusumo, beliau mendirikan Indische Partij. Beliau pernah dibuang ke negeri Belanda pada tahun 1913 selama 6 tahun. Pada saat itulah beliau banyak mempelajari masalah-masalah pendidikan. Setelah partainya mengalami kemunduran, alat perjuangan beliau adalah melalui jalur pendidikan. Menurutnya, kemunduran, kemerosotan, dan ketertinggalan rakyat Indonesia adalah masalah pendidikan yang belum ditangani dengan baik.
Pada tahun 1922, beliau mendirikan Taman Siswa. Sekolah itu Untuk mendidik penduduk supaya menjadi warga negara yang mempunyai derajat dan semangat kebangsaan. Semboyan dari Ki Hajar Dewantara adalah Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madya Mangun Karso Tut Wuri Handayani. Jerih payah perjuangan beliau sangat dirasakan sekali oleh rakyat Indonesia dari saat memasuki masa kemerdekaan sampai sekarang.

4) Douwes Dekker
Beliau mempunyai nama panggilan Danudirdja Setia budhi. Seorang Indo keturunan Campuran antara Belanda Indonesia. Dilahirkan tanggal 8 Oktober 1879 di Pasuruan, Jawa Timur. Pada usia 18 tahun, beliau mulai bekerja menjadi pegawai perkebunan. Sering terjadi perselisihan paham dengan atasannya yang lebih banyak membela pemerintah Hindia Belanda. Sementara Douwes Dekker sendiri ingin membela kepentingan buruh pribumi.
Setelah keluar dari pekerjaannya, beliau menjadi wartawan dan pimpinan redaksi surat kabar De Express dan Het Tijdchrift. Melalui media tersebut, beliau menyerukan kaum Indo dan kaum pribumi untuk bersatu bersama-sama menentang penjajahan Belanda.
Pada tanggal 25 Desember 1912, ia bersama teman-temannya, yaitu Dr. Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara mendirikan partai politik yang bernama Indische Partij. Akan tetapi sangat disayangkan, beliau dianggap membahayakan pemerintah colonial Belanda. Beliau dibuang dengan tokoh organisasi lainnya. Beliau meninggal di Bandung pada tahun 1949.

5) Haji Samanhudi
Nama kecilnya adalah Sudarno Nadi, dilahirkan di Solo pada tahun 1886. Beliau belajar agama sambil berdagang batik. Pada tahun 1911, terjadi persaingan yang tidak sehat antara pedagang pribumi dan pedagang Cina. Pedagang pribumi sering mendapat tekanan dari pemerintah Belanda, sedangkan pedagang Cina mendapat bantuan dari Belanda.
Melihat keadaan yang demikian, Haji Samanhudi menghimpun kekuatan di bidang perdagangan dan agama. Pada tahun 1911, beliau mendirikan Serikat Dagang Islam (SDI) di Kota Solo. Anggota awalnya hanya terdiri atas pedagang batik di Solo saja. Lahirnya SDI mendapat sambutan yang luas. Dalam waktu yang sangat singkat cabang-cabang SDI muncul di berbagai tempat di luar Kota Solo. Pada tanggal 10 September 1912, nama Serikat Dagang Islam dirubah menjadi Serikat Islam (SI). Haji Samanhudi diangkat menjadi ketuanya sampai tahun 1914. Sesudah itu, SI dipimpin oleh Haji Oemar Said Cokroaminoto.
Sejak tahun 1920, beliau tidak aktif lagi di dalam kegiatan partai karena kesehatannya sering terganggu. Namun perhatiannya terhadap perjuangan pergerakan nasional tidak pernah surut. Beliau meninggal pada tanggal 28 Desember 1956 di Klaten dan dimakamkan di Desa Banaran Kecamatan Grogol Sukoharjo Jawa Tengah.

6) Muhammad Husni Thamrin
Dilahirkan di Jakarta tanggal 16 Februari 1894. Setelah tamat dari HBS (setingkat SMP), beliau bekerja pada pemerintahan Belanda. Beliau sangat memerhatikan kemajuan masyarakat Betawi (Jakarta) khususnya dan Bangsa Indonesia umumnya.
Pada tahun 1919, beliau menjadi anggota Dewan Kota Batavia (Jakarta). Di Dewan Kota, ia banyak menyuarakan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Karena kemampuannya, beliau diangkat menjadi wakil wali kota, namun tidak menyurutkan kecamannya terhadap penjajah Belanda yang menindas bangsa Indonesia.
Tahun 1927, beliau diangkat menjadi anggota Volstraad (DPR) dan membentuk fraksi nasionalis untuk memperkuat golongan nasionalis. Sebagai wakil rakyat, beliau bersama Kusumo Utomo mengadakan peninjauan ke Sumatra untuk meninjau nasib buruh perkebunan yang sangat menderita. Kegiatannya di Partai Indonesia Raya (Parindra) menjadikan beliau dicurigai oleh Belanda. Pada tahun 1939, beliau mengajukan mosi agar istilah Nederlands Indie Diganti menjadi istilah Indonesia. Sebagai akibatnya, Belanda mengenakan tahanan rumah pada tanggal 6 Januari 1941. Beliau meninggal dunia karena sakit pada tanggal 11 Januari 1941 dan Dimakamkan di pemakaman Karet, Jakarta.

7) Otto Iskandardinata
Dilahirkan di Kota Bandung tanggal 31 Maret 1897. Pada masa Belanda beliau menamatkan pendidikan di sekolah guru. Kemudian menjadi guru SMA di Purworejo dan Banjarnegara, aktif di dalam organisasi Budi Utomo di Pekalongan dan menjadi wakil ketua Budi Utomo Pekalongan  juga menjadi anggota Dewan Kota. Di lembaga inilah beliau mengkritik Belanda yang mengakibatkan penderitaan bagi rakyat. Oleh karena itu, beliau berselisih paham bahkan sampai bertengkar hebat dengan Residen Pekalongan pada waktu itu.
Otto Iskandardinata pindah ke Jakarta dan mengajar di Perguruan Tinggi Muhamadiyah. Ia aktif pula dalam kepengurusan Paguyuban Pasundan cabang Jakarta. Berkat usahanya, Paguyuban Pasundan banyak mendirikan sekolah. Akhirnya. beliau terpilih menjadi wakil rakyat dalam Volstraad. Pada bulan Oktober 1945, beliau diculik oleh sekelompok pengkhianat bangsa. Beliau tewas dibunuh di daerah Mauk Banten tanggal 20 Desember 1945, makamnya kemudian dipindahkan ke Bandung.

2. Masa Pendudukan Jepang
Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour (Hawaii) dibom oleh tentara Jepang pada tanggal 8 Desember 1941. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh menyatakan perang terhadap Jepang. Bala tentara Jepang dengan cepat bergerak masuk ke wilayah Asia Tenggara. Untuk menghadapi serangan Jepang tersebut dibentuklah ABDACOM (American British Dutch Australian Command) dipimpin oleh Jenderal Sir Archibald Wavell dan bermarkas di Lembang Bandung. Namun kenyataannya, pada tanggal 8 Maret 1942 pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Penyerahan ini ditandatangani oleh Letnan Jenderal Terpoten sebagai Panglima Angkatan Perang Hindia Belanda kepada Letnan Jenderal H. Imamura sebagai pimpinan angkatan perang Jepang. Semenjak, itu Jepang berkuasa di Indonesia. Kedatangan Jepang ke Indonesia oleh bangsa Indonesia semula disambut dengan gembira sebagai bangsa pembebas penjajahan Belanda. Hal ini ditandai dengan adanya pembebasan pemimpin pergerakan kemerdekaan oleh Jepang, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ki Hajar Dewantara.
Selanjutnya, Jepang memeras rakyat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perang dengan Sekutu. Caranya dengan mewajibkan rakyat Indonesia untuk menyerahkan kekayaan yang dimilikinya dan memeras tenaga dan waktu. Rakyat Indonesia harus bekerja tanpa adanya jaminan keselamatan dan perbekalan. Rakyat dipaksa membuat benteng-benteng pertahanan, lubang-lubang persembunyian dan perlindungan serta goa-goa untuk menyimpan perbekalan dan pertahanan Jepang. Selain itu, diterapkan juga sistem kerja paksa dengan nama romusa.
Untuk membantu tentara Jepang dalam perang melawan Sekutu, pemuda Indonesia dikerahkan menjadi pembantu prajurit dengan sebutan Heiho.
Gatot Mangkupraja mengusulkan pembentukan Peta (Pembela Tanah Air) untuk menjaga keadaan Indonesia dari serangan musuh (Sekutu). Usul ini disetujui oleh Jepang. Berduyun-duyunlah para pemuda Indonesia mendaftarkan diri untuk menjadi tentara Peta.
Selama di Indonesia, Jepang telah bertindak keterlaluan dan menyebabkan segala aturan yang ada di masyarakat terinjak-injak. Mereka pun telah menyebabkan penderitaan yang sangat berat, baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, timbullah perlawanan dari rakyat Indonesia.
Perlawanan rakyat Indonesia ini dapat digolongkan dalam 3 bagian sebagai berikut:

a. Melalui perjuangan organisasi yang dibentuk oleh Jepang, antara lain;
1)perjuangan dari Gerakan 3A yang dipimpin oleh Syamsudin SH, tahun 1943;
2)Putera (Perjuangan Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantara, Kiai Haji Mas Mansur tahun 1943;
3)perjuangan Peta (Pembela Tanah Air) tahun 1943.

b. Melalui gerakan bawah tanah, yaitu perjuangan yang bertentangan dengan kehendak pemerintah Jepang, antara lain:
1)perjuangan yang dipimpin oleh Amir Sjarifudin tahun 1943;
2)perjuangan yang dipimpin oleh Sutan Sahrir tahun 1943;
3)perjuangan yang dipimpin Sukarni;
4)perjuangan yang dipimpin Ahmad Subarjo, SH tahun 1943.

c. Perjuangan yang dilakukan rakyat, yaitu:
1)perjuangan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teungku Abdul Jalil tahun 1942;
2)perjuangan rakyat Karangampel Sindang Kabupaten Indramayu yang dipimpin oleh Haji Hadriyan tahun 1944;
3)perjuangan rakyat Sukamanah Kabupaten Tasikmalaya yang dipimpin oleh Haji Zaenal Mustofa tahun 1943;
4)perjuangan rakyat Blitar yang dipimpin oleh Supriadi tanggal 14 Pebruari 1945.

IPS KELAS V MATERI POKOK Perjuangan Para Tokoh Pejuang pada Masa Penjajahan Belanda dan Jepang Rating: 4.5 Diposkan Oleh: ROBINN

0 komentar:

Posting Komentar