PERKEMBANGAN PADA MASA ISLAM DI INDONESIA


A. Awal Penyebaran Islam
Awal pertumbuhan agama Islam di Saudi Arabia dalam suasana kegelapan, kekacauan, ketidakteraturan, dan ketidakpastian, yang lazim disebut dengan zaman jahiliyah. Tidak ada kepastian hukum yang dapat dipakai sebagai pedoman sehingga masyarakat kehilangan arah, hidup dalam ketakutan, karena dimana-mana hanya akan ditemui kekerasan dan kekejaman. Di tengah-tengah kegelapan itu, Islam muncul, yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Meski mengalami banyak rintangan dan hambatan serta penderitaan lahir batin, Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam, mulai usia 40 tahun sampai dengan wafatnya tahun 632 M, dalam usia 63 tahun. Saat beliau wafat, pengaruh Islam sudah meliputi hampir seluruh suku bangsa di wilayah Arab.
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, kedudukan beliau sebagai kepala pemerintahan digantikan oleh orang-orang yang diberi gelar khalifah, yang artinya pengganti.
Khulafa’ur Rasyidin adalah empat khalifah pertama sebagai pengganti Muhammad, yang dipandang sebagai pemimpin yang mendapat petunjuk dan patut dicontoh. Mereka semua adalah sahabat dekat Nabi Muhammad SAW. Penerus kepemimpinan mereka bukan berdasarkan keturunan, suatu hal yang kemudian menjadi ciri-ciri kekhalifahan selanjutnya Khulafa’ur Rasyidin, yaitu Khalifah Abubakar, Khalifah Umar, Khalifah Usman, dan Khalifah Ali. Di bawah kepemimpinan keempat khalifah tersebut, masyarakat muslim kemudian memperluas pengaruhnya ke seluruh dunia.

B. Proses Masuk Dan Berkembangnya Pengaruh Islam Di Indonesia
Islam masuk ke Indonesia akibat adanya perdagangan dan pelayaran internasional. Pada saat itu, jalur perdagangan internasional Timur Tengah-India-Malaka-Cina merupakan satu-satunya jalur perdagangan Asia yang sangat ramai. Bersamaan dengan kesibukan perdagangan antarbangsa yang melewati Indonesia itulah, Islam masuk ke Indonesia.
Islam masuk ke Indonesia ketika sebagian masyarakatnya sudah memeluk agama Hindu atau Buddha, atau saat masyarakat masih memeluk kepercayaan asli, atau bahkan saat Hindu-Buddha, dan kepercayaan asli bercampur saling mempengaruhi. Namun yang jelas, Islam datang setelah Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia terlebih dahulu.
Penyebaran pengaruh Islam yang berasal dari jazirah Arab ke Asia dan benua lainnya, menimbulkan pusat-pusat agama Islam di kawasan tersebut, yang berperan sebagai pusat pemerintahan dan peradaban, juga berperan dalam penyebaran pengaruh Islam ke wilayah sekitarnya. Indonesia telah mengadakan hubungan ekonomi, hubungan sosial, dan hubungan politik dengan pusat-pusat Islam di Asia Selatan maupun pusat-pusat Islam lainnya.
Hubungan dalam bidang ekonomi sudah dilaksanakan sejak lama. Lebih-lebih pada abad ke-7, dimana perdagangan begitu ramainya, terutama di Selat Malaka. Sedangkan bandarbandar Indonesia Berada di seputar Selat Malaka, Yang tentu saja sangat ramai dikunjungi pedagang mancanegara. Hasil hutan dan rempah-rempah dari Indonesia turut diperdagangkan, bahkan merupakan barang dagangan yang sangat laku.
Hubungan dalam bidang sosial ditandai dengan adanya interaksi sosial antara para pedagang muslim yang banyak bermukim di Indonesia dengan masyarakat setempat. Adanya interaksi sosial inilah yang akhirnya memberikan pengaruh masuknya nilai dan ajaran Islam sehingga semakin banyak yang memeluk agama Islam. Hubungan dalam bidang politik terjalin setelah kerajaan Islam berdiri di Indonesia pada abad ke-13 M, yaitu saat berdirinya Kerajaan Samudra Pasai di Aceh.
Hubungan Indonesia dengan pusat-pusat Islam lainnya pun sudah sangat intensif. Selain dalam rangka membendung dominasi Portugis di Selat Malaka, hubungan itu juga Nampak dari pusat-pusat perdagangan di Asia, yang berhubungan dengan kerajaan Islam di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Kerajaan Samudra Pasai pun telah menjalin hubungan dagang dan politik dengan Cina, India, dan Asia Barat.
Hubungan antara Indonesia dengan pusat-pusat perkembangan Islam di Bagdad, Kairo, Kordoba, sudah terjadi sejak sebelum abad ke-15, meskipun hubungan itu tidak langsung, tetapi melalui jalur-jalur perdagangan yang sedang berkembang.

C. Peranan Pedagang dan Ulama Dalam Perkembangan Islam di Indonesia
Masuknya pengaruh Islam ke Indonesia, tidak lepas dari peran pedagang dan para ulama terutama walisongo.

1. Peranan pedagang
Para pedagang yang menjalin hubungan dagang dengan pedagang Indonesia tidak hanya pedagang Cina, tetapi juga pedagang India, Persia, Arab, Mesir, dan Turki. Di samping berdagang, mereka menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Indonesia. Pertama-tama tentunya adalah para pedagangnya, kemudian disebarluaskan kepada orang lain. Menurut Snouck Hurgronje, orang-orang Islam yang dating pertama dan menyebarkan agama Islam di Indonesia, tidak langsung dari Negeri Arab, melainkan melalui orang-orang Islam dari Gujarat (India).
Para pedagang mancanegara yang mendapat kesempatan langsung menjual dagangannya kepada penguasa setempat dan keluarganya, telah memperkenalkan ajaran Islam kepada mereka. Sifat terbuka para penguasa kerajaan, merupakan kesempatan yang sangat baik bagi berkembangnya Islam di Indonesia. Juga karena kuatnya pengaruh Islam, raja-raja kecil di pesisir yang telah masuk Islam, berusaha melepaskan diri dari pusat pemerintahan yang masih beragama Hindu atau Buddha. Bahkan kemudian mereka Banyak yang menjadi penyebar agama Islam di Indonesia.
Penyebaran agama Islam di Indonesia yang dilakukan oleh para pedagang, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut.
- Mula-mula para pedagang berdatangan ke pusat-pusat perdagangan.
- Kemudian mulai ada yang bertempat tinggal, baik sementara maupun menetap.
- Lambat laun tempat tinggal mereka berkembang menjadi perkampungan muslim dari negeri asing disebut pekojan.
- Status sosial yang tinggi, memudahkan mereka mengawini pribumi, baik rakyat biasa maupun anak bangsawan.
- Sebelum pernikahan, calon isterinya di-Islam-kan dulu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
- Lambat laun berkembang perkampungan, masyarakat, dan kerajaan Islam.

2. Peranan ulama
Agama Islam yang diperkenalkan kepada bangsa Indonesia mempunyai bentuk yang menunjukkan persamaan dengan alam pikiran yang telah dimiliki oleh orang-orang yang dulunya menganut agama Hindu Syiwa dan Buddha Mahayana. Hal ini menyebabkan ajaran Islam yang diperkenalkan semakin mudah dimengerti dan dipahami.
Salah satu cara agar pemahaman tentang Islam mudah diterima oleh masyarakat adalah melalui gambaran-gambaran, tidak langsung pada inti pembahasan yang mungkin sulit diterima, antara lain melalui gending-gending Jawa, gending-gending dolanan, wayang kulit, dan hikayat. Dalam hal ini, pondok-pondok pesantren merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam. Para santri yang telah keluar dari pesantren, akan menjadi tokoh agama, menjadi Kyai, dan mendirikan pesantren lagi. Demikian seterusnya sehingga semakin lama Islam Semakin berkembang luas.
Pada proses awal penyebaran Islam ke berbagai wilayah di Indonesia, sebenarnya tidak lepas dari perjuangan para ulama yang terkenal dengan sebutan Wali Songo, sebuah forum musyawarah para wali yang jumlahnya sembilan. Jika ada yang uzur, selalu ada penggantinya sehingga jumlahnya tetap sembilan.
Dakwah dan penyebaran Islam khususnya di Pulau Jawa oleh Wali Songo, dilakukan secara damai, halus, dan disesuaikan dengan keadaan masyarakat setempat. Wali Songo yang sangat terkenal bagi masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Maulana Malik Ibrahim
Beliau keturunan Arab, berasal dari Turki. Datang ke Jawa Timur tahun 1379, meninggal tahun 1419, dan dimakamkan di Gresik. Selain menguasai ilmu-ilmu agama secara mendalam dan sempurna, Maulana Malik Ibrahim juga ahli dalam bidang tata negara.
Penyebaran Islam secara halus, tidak menentang adat istiadat penduduk asli yang masih memeluk agama Hindu ataupun Buddha. Beliau melakukan dakwah di Pulau Jawa bagian timur.
b. Sunan Ampel
Sunan Ampel berasal dari Jeumpa, Aceh, dengan nama kecil Raden Ahmad Ali Rahmatullah atau lebih dikenal dengan Raden Rahmat. Beliau datang ke Jawa pada tahun 1421 M, menggantikan Maulana Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 M.
Beliau mendirikan pesantren di Ampel Denta, Surabaya. Sunan Ampel juga ikut mendirikan Masjid Agung Demak pada tahun 1479 dan merupakan salah seorang perencana berdirinya Kerajaan Islam Demak. Sunan Ampel dimakamkan di Ampel Surabaya.
c. Sunan Drajad
Sunan Drajad adalah putra Sunan Ampel, lahir di Surabaya, dengan nama kecil Raden Qosim. Beliau pencipta Gending Pangkur, dan penyebar Islam yang berjiwa sosial dan dermawan. Sunan Drajad dimakamkan di daerah Lamongan.
d. Sunan Bonang
Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, lahir di Surabaya Tahun 1465, Dengan nama kecil Raden Makdum. Sunan Bonang wafat tahun 1525, dimakamkan di Tuban. Beliau pencipta Gending Durma.
e. Sunan Giri
Syekh Maulana Ainul Yakin, dengan nama kecilnya Raden Paku, adalah putra Syekh Maulana Ishak yang mendirikan pesantren di Giri, sehingga lebih populer dengan sebutan Sunan Giri. Sunan Giri menyebarkan agama Islam tidak hanya di Jawa, tetapi juga ke pulau-pulau sekitar Jawa Timur, bahkan sampai Maluku. Beberapa Kyai dari Giri diundang ke Maluku untuk menjadi guru-guru agama. Sunan Giri adalah pencipta Gending Asmaradana dan Gending Pucung. Beliau pencipta permainan anak-anak yang berjiwa Islam, seperti Ilir-ilir, Jamuran, dan Cublakcublak Suweng.
f. Sunan Kalijaga
Nama kecilnya Raden Mas Syahid. Beliau lahir di Tuban, Jawa Timur, sebagai  putra Tumenggung Sahur Wilatikta, Adipati Tuban. Beliau adalah seorang wali, mubalig, pejuang, pujangga, dan filsuf yang berjiwa besar. Beliau menyiarkan agama Islam melalui cerita wayang. Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, dekat Demak.
g. Sunan Kudus
Nama kecil Sunan Kudus adalah Sayyid Ja’far Shodiq, berasal dari Palestina. Beliau datang ke Jawa pada tahun 1436 M. Daerah penyebaran Islam di pesisir Jawa Tengah. Beliau seorang pujangga, pandai mengarang, pencipta Gending Mas Kumambang dan Gending Mijil. Pernah jadi Senapati Kerajaan Islam Demak.
h. Sunan Muria
Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga, dengan nama kecil Raden Umar Said. Beliau ikut mendirikan Masjid Demak dan ikut membantu berdirinya Kerajaan Islam Demak. Beliau menciptakan Gending Sinom dan Gending Kinanti untuk kepentingan dakwah. Beliau wafat dan dimakamkan di puncak Gunung Muria.
i. Sunan Gunung Jati
Syarif Hidayatullah atau lebih popular dengan sebutan Sunan Gunung Jati, berasal dari Palestina. Datang ke Pulau Jawa pada tahun 1436 M. Beliau mempunyai nama sangat banyak, antara lain Fatahilah, Muhammad Nurudin, Faletehan, Syah Nurullah, Makhdum Jati, dan Makhdum Rakhmatullah. Beliau diangkat sebagai Panglima Perang Kerajaan Demak dan ditugaskan di Jawa Barat. Beliau mendirikan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan di Gunung Jati Cirebon.

D. Perkembangan Masyarakat, Kebudayaan dan Pemerintahan Pada Masa Islam Di Indonesia

Masuknya pengaruh Islam dan penyebarannya di Indonesia, baik kepada golongan bangsawan maupun masyarakat umum, dilakukan dengan damai dan dapat diterima dengan cepat. Hal ini disebabkan beberapa factor sebagai berikut.
1. Syarat-syarat masuk Islam sangat mudah.
2. Upacara-upacara dalam Islam sangat sederhana.
3. Islam tidak mengenal kasta, semua orang dinilai sama kedudukannya.
4. Penyebaran Islam disesuaikan kondisi sosial budaya masyarakat.
5. Jatuhnya Sriwijaya dan Majapahit memperlancar penyebaran Islam.

Penyebaran Islam di Indonesia di setiap daerah tidak dalam kurun waktu yang sama. Masing-masing kerajaan dan daerah yang mendapatkan pengaruh Islam, mempunyai situasi politik dan pemerintahan serta perkembangan kondisi masyarakat dan sosial budaya yang berbeda-beda.

1. Situasi dan kondisi politik dan pemerintahan
a. Di Sumatera
Pada saat Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-7 sampai ke-9 Masehi, sebenarnya Selat Malaka sudah mulai ramai dilalui oleh pedagang- pedagang muslim, dalam pelayarannya ke negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kedatangan orang-orang Islam ke Asia Tenggara dan Asia Timur, pada awalnya belum terasa pengaruhnya, karena masih dalam taraf penjajakan di bidang pelayaran dan perdagangan. Namun pada abad ke-9 M, ketika para petani Cina Selatan mengadakan pemberontakan terhadap kekuasaan pemerintahan Hi Tsung (878-778 M), dimana orang-orang muslim terlibat di dalamnya, dan minta perlindungan ke Kedah, ternyata Kedah melindungi orang-orang muslim tersebut. Padahal saat itu Kedah masuk wilayah kekuasaan Sriwijaya.
Pada awal abad ke-16, daerah-daerah pesisir Sumatera Utara dan Timur Selat Malaka, yaitu dari Aceh sampai Palembang, sudah banyak terdapat masyarakat dan kerajaan-kerajaan Islam.
b. Di Pulau Jawa
Masuknya pengaruh Islam pertama kalinya ke Pulau Jawa, belum dapat diketahui dengan pasti. Namun Batu Nisan Kubur Fatimah binti Maimun di Leran Gresik yang berangka tahun 475 H (1082 M), barangkali merupakan bukti nyata kedatangan Islam ke Jawa Timur. Namun bukan berarti sudah terjadi proses masuknya pengaruh Islam yang luas di Jawa.
Proses Islamisasi di Jawa Timur sudah terjadi semenjak kejayaan Majapahit. Hal ini dapat diketahui dari penemuan puluhan nisan kubur di Troloyo, Trowulan, dan Gresik, serta berita Mahuan tahun 1416 yang menceritakan orang-orang muslim yang bertempat tinggal di Gresik. Hal ini membuktikan bahwa di pusat Kerajaan Majapahit maupun di pesisir, terutama di kota-kota pelabuhan, telah terjadi proses Islamisasi dan terbentuknya masyarakat muslim waktu itu.
Ketika Majapahit masih dipimpin oleh Hayam Wuruk dan Gajah Mada, situasi politik di daerah kekuasaan Majapahit cenderung tenang dan semua raja bawahan patuh dan mengakui kedaulatan Majapahit. Namun ketika kedua tokoh itu wafat, yaitu Gajah Mada pada 1364 dan Hayam Wuruk pada 1389, situasi politik berubah total. Majapahit semakin lemah, dan raja-raja bawahan mulai melepaskan diri. Ini merupakan peluang bagi penyebaran agama Islam.
Meskipun Kerajaan Hindu yang besar di Kediri sudah tumbang pada tahun 1526, namun kerajaan-kerajaan kecil di Pasuruan dan Panarukan dengan pusatnya di Blambangan belum Islam. Pasuruan baru tunduk kepada Islam sejak tahun 1546, ketika diserang Demak pimpinan Trenggana. Pajajaran baru jatuh ke tangan muslim pada tahun 1579/1580 karena serangan dari Kerajaan Banten.
c. Di Sulawesi
Di Sulawesi, beberapa raja yang resmi masuk Islam adalah sebagai berikut.
- Raja Gowa dan Tallo resmi masuk Islam pada 22 September 1605.
- Raja Wajo resmi masuk Islam pada 10 Mei 1610.
- Raja Bone resmi masuk Islam pada 23 Nopember 1611.
d. Di Maluku
Kedatangan Islam ke Indonesia bagian timur, yaitu ke daerah Maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang antara pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, Jawa, dan Maluku. Hal ini yang mengakibatkan di Banda, Hitu, Haruku, Makyan, dan Bacan, sudah terdapat masyarakat muslim. Akibat persaingan dalam perdagangan, akhirnya Maluku jatuh Di bawah kekuasaan politik dan ekonomi Kompeni Belanda.
e. Di Kalimantan
Di Kalimantan Selatan, pengaruh Islam mulai masuk ketika ada perebutan kekuasaan antarkeluarga kerajaan, dan minta bantuan Demak untuk menyelesaikannya. Proses Islamisasi di Banjarmasin terjadi pada tahun 1550. Di Kalimantan Timur, proses Islamisasi terjadi sekitar tahun 1575.

2. Situasi dan kondisi sosial budaya
Pada masa kedatangan Islam, di Indonesia terdapat beragam suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi dan sosial budaya. Suku bangsa di pedalaman, belum banyak mengalami percampuran jenis bangsa dan budaya dari luar. Struktur ekonomi dan sosial budaya cenderung statis dibandingkan dengan mereka yang bertempat tinggal di daerah pesisir. Lebih-lebih mereka yang tinggal di kota-kota pelabuhan.
Pada awal penyebaran Islam di Indonesia masih berdiri kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, yaitu Sriwijaya dan Melayu di Sumatera, Majapahit dan Pajajaran di Jawa, Nagara-Daha dan Kutai di Kalimantan. Di samping itu di Sulawesi terdapat kerajaan-kerajaan yang tidak tersentuh pengaruh Hindu-Buddha, antara lain Gowa, Wajo, Bone, dan puluhan kerajaan lagi yang hidup subur yang masih menyembah berhala.
Di Maluku ada kelompok masyarakat yang belum Islam, tetapi juga tidak kena pengaruh Hindu-Buddha. Di pedalaman Banda masih menganut berhala. Di Pedalaman Kalimantan budayanya masih menunjukkan pra Hindu dan pra Islam. Di beberapa daerah, meskipun budaya asing dan agama telah masuk ke Indonesia, namun itu hanya lapisan tipis di luarnya saja, sedang yang ada di dalamnya adalah seluruh bentuk asli dan kuno yang masih tetap ada dan masih terus berlanjut.
Ketika Islam masuk ke Indonesia, masing-masing daerah menggunakan bahasa daerahnya sendiri, seperti di Jawa menggunakan bahasa Jawa Kuno dan Sunda Kuno; di Sumatera dengan bahasa Melayu, Batak, Kubu, Nias, Minangkabau, dan Padang di Kalimantan dengan bahasa Melayu, Banjar, Dayak, di Sulawesi menggunakan bahasa Bugis, Makassar, dan masih banyak lagi.
Sampai dengan abad ke-20, daerah yang dipengaruhi dan tidak dipengaruhi Islam di Indonesia sebagai berikut.
- Di Sumatera, hampir seluruh wilayahnya sudah dipengaruhi Islam, kecuali sebagian daerah Batak di Sumatera Barat.
- Di Pulau Jawa, seluruh wilayahnya sudah dipengaruhi Islam.
- Di Kalimantan, hampir seluruh wilayahnya sudah dipengaruhi Islam, kecuali daerah pedalaman.
- Di Sulawesi, hampir seluruh wilayahnya sudah dipengaruhi Islam, kecuali sebagian Sulawesi Utara agama Kristen cukup kuat. Namun kerukunan umat beragama di Sulawesi Utara sangat baik.
- Di Bali dan Nusa Tenggara Barat maupun Timur, Islam sudah banyak dianut masyarakat, namun pengaruh Hindu masih sangat kuat.
- Di Papua, pengaruh Islam sudah menyebar ke berbagai wilayah.


E. Perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia
1. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai yang terletak di dekat Muara Sungai Peusangan di pesisir timur laut Aceh, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, dengan Sultan Malik Al Saleh sebagai kepala negaranya. Samudra Pasai cepat berkembang karena letaknya yang sangat strategis sehingga terjalin hubungan dagang yang baik dengan India, Benggala, Gujarat, Arab, dan Cina. Berkat kemajuan dalam perdagangan, Samudra Pasai menjadi kerajaan yang makmur dan memiliki pertahanan yang kuat, serta luas daerah kekuasaannya.
Pada tahun 1350, Samudra Pasai diserang oleh Majapahit yang iri karena kedekatan Samudra Pasai dengan Kesultanan Delhi. Penyerangan ini mengakibatkan kemunduran Kerajaan Samudra Pasai yang semakin Lama semakin lemah dan akhirnya dapat dikuasai oleh Kerajaan Aceh.

2. Kerajaan Aceh
Kerajaan Aceh terletak di ujung utara Pulau Sumatera. Semula Aceh merupakan daerah taklukan Kerajaan Pedir. Jatuhnya Malaka dan Pasai ke tangan Portugis, mengakibatkan para pedagang di Selat Malaka mengalihkan kegiatannya ke Pelabuhan Aceh. Aceh akhirnya berkembang pesat, dan setelah kuat kemudian melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Pedir dan berdiri sebagai wilayah yang merdeka. Sultan pertama sekaligus pendiri Kerajaan Aceh Adalah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528).
Aceh mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Aceh berusaha menguasai kembali daerah-daerah yang dulu di bawah pengaruhnya dan telah direbut Portugis. Bahkan Aceh dapat menaklukkan Deli, Johor, Bontan, Pahang, Kedah, Perak, Nias hingga tahun 1625. Daerah sepanjang pantai barat Pulau Sumatera dapat dikuasai pula, seperti Indrapura, Silebar, Tiku, Salida, dan Pariaman.
Sejak Sultan Iskandar Muda wafat, Aceh terus-menerus mengalami kemunduran yang akhirnya menyebabkan keruntuhan Aceh. Namun, Aceh masih memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam.

3. Kerajaan Demak
Majapahit mengalami keruntuhan pada tahun 1478. Pada tahun 1500, Raden Patah yang keturunan Raja Brawijaya V, seorang Adipati Demak yang beragama Islam, telah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Kemudian dengan bantuan para wali, Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak, dan dinobatkan sebagai Sultan Demak pertama, dengan gelar Senapati Jimbung Ngabdur’rahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.
Demak menjadi kerajaan maritim, dan Raden Patah berhasil membuat Jepara dan Semarang menjadi pelabuhan transit yang menghubungkan Indonesia bagian timur sebagai daerah penghasil rempah-rempah, dengan Malaka sebagai daerah pemasaran Indonesia bagian barat.
Keruntuhan Kerajaan Demak diawali dengan wafatnya Sultan Trenggana pada Tahun 1546, karena terjadi Perebutan tahta kerajaan. Aria Penangsang, Berhasil membunuh Prawata (putra Sultan Trenggana) Yang merasa lebih berhak atas tahta kerajaan. Aria Penangsang sendiri Berhasil dibunuh oleh Hadiwijaya, Adipati Pajang dan menantu Sultan Trenggana. Kemudian pusat Pemerintahan Demak beserta alat Kebesarannya dipindahkan ke Pajang pada tahun 1568. Sejak saat itu tamatlah riwayat Kerajaan Demak dan berdirilah Kerajaan Pajang.

4. Kerajaan Pajang
Setelah Hadiwijaya menduduki tahta Kerajaan Pajang, segera menghadiahkan daerah Kotagede Yogyakarta dan mengangkat Ki Ageng Pemanahan menjadi adipati di situ. Saat Ki Ageng Pemanahan meninggal, jabatan Adipati digantikan oleh anaknya, Sutawijaya. Sementara itu Adipati Demak diserahkan kepada Pangeran Aria Pangiri. Sutawijaya yang menjadi adipati di Mataram (Yogyakarta) ingin menjadi raja dan berkuasa atas seluruh Pulau Jawa.
Sultan Hadiwijaya wafat pada tahun 1582, kedudukan digantikan putranya, Pangeran Benowo. Saat Pangeran Benowo berkuasa, Aria Pangiri berusaha merebut kekuasaan di Pajang, namun dapat digagalkan atas bantuan Sutawijaya. Pangeran Benowo memang tidak sanggup menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Sultan Pajang, oleh karenanya ia menyerahkan tahta kerajaan kepada Sutawijaya. Oleh Sutawijaya, Kerajaan Pajang dipindahkan ke Mataram pada tahun 1586. Berakhirlah riwayat Pajang, dan berdiri Kerajaan Mataram yang bercorak Islam di Yogyakarta.

5. Kerajaan Mataram Islam
Setelah naik tahta kerajaan pada tahun 1586, Sutawijaya bergelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Kerajaan Mataram yang didirikan Sutawijaya merupakan Kerajaan Mataram kedua yang kini bercorak Islam, sementara yang pertama dulu bercorak Hindu. Namun letak Mataram Islam berada di bekas wilayah Kerajaan Mataram Hindu. Sementara itu, Pajang yang dahulu menjadi pusat kerajaan, masuk menjadi wilayah kekuasaan Mataram Islam, dan Pangeran Benowo sebagai Adipati Pajang.
Setelah Panembahan Senapati, berturutturut yang menggantikan kedudukan Sultan Mataram Adalah Mas Jolang Atau Pangeran Seda Krapyak (1601-1613), Mas Rangsang Atau Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati ing Alaga Ngabdurrahman Kalifatullah (1613-1645).
Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri. Semua raja keturunan Sultan Agung, baik dari Yogyakarta maupun dari Surakarta, juga dimakamkan di Imogiri. Setelah Sultan Agung wafat, Mataram Islam mengalami kemunduran.

6. Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon didirikan oleh Faletehan atau Fatahilah, yaitu seorang penyebar agama Islam, ahli perang, politikus, dan negarawan, yang sebelumnya mengabdi pada Kerajaan Demak. Pemerintahan Fatahilah tidak berlangsung lama, karena beliau lebih menekuni bidang agama. Tahta diserahkan kepada cucunya Panembahan Ratu. Pada tahun 1570, Fatahilah wafat dan dimakamkan di Desa Gunung Jati, Cirebon. Oleh sebab itu, beliau lebih terkenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

7. Kerajaan Banten
Kerajaan Banten terletak di ujung barat Pulau Jawa, yaitu di sebelah selatan wilayah Banten sekarang. Semula Banten di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran, namun akhirnya berhasil direbut Fatahilah atas perintah Sultan Trenggana dari Demak. Sejak saat itu Islam berkembang dengan pesat.
Banten muncul sebagai kerajaan merdeka setelah melepaskan diri dari Demak, dengan rajanya yang pertama Sultan Hasanuddin (1551-1570), yaitu putra tertua Fatahilah.
Raja-raja Banten setelah Sultan Hasanuddin adalah Sultan Yusuf (1570-1580), Maulana Muhammad (1580-1596), dan Abdulmufakir (1596-1640). Selanjutnya Banten surut, dan baru mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa.

8. Kerajaan Makassar
Pada awal abad ke-16, di Sulawesi Selatan terdapat banyak kerajaan yang menurut Tome Pires jumlahnya ada 50 yang masih menganut berhala. Di antara kerajaankerajaan di Sulawesi yang terkenal adalah Kerajaan Gowa, Tallo, Bone, Wajo, Soppeng, dan Kerajaan Luwu. Penyebaran Islam di Makassar dirintis oleh para pedagang muslim dari Minangkabau, Johor, dan Melayu. Keterbukaan Raja Gowa dan Tallo mempercepat proses penyebaran Islam di Makassar.
Pada tahun 1605, Raja Gowa dan Raja Tallo masuk Islam, dan selanjutnya diikuti kerajaan-kerajaan lain, yaitu Wajo pada 1610, dan Bone pada tahun 1611.  Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo lazim disebut Kerajaan Makassar. Raja Makassar yang pertama adalah Sultan Alaudin (1591-1639), yang pengaruhnya sampai Sumbawa, Bima, Manado, Gorontalo, dan Tomini, kemudian Muhammad Said (1639-1653), dan dilanjutkan Sultan Hasanuddin (1654-1660).

9. Kerajaan Ternate
Kerajaan Ternate terletak di Maluku Utara, berdiri sejak abad ke-13, dengan ibukota di Sampalu. Perkembangan agama Islam di Ternate sangat pesat setelah raja Ternate Zainal Abidin belajar Islam di Gresik. Bahkan para kyai dan ulama di Gresik didatangkan ke Ternate untuk menjadi  guru ngaji. Di samping itu juga mengirimkan para pemuda Ternate untuk belajar agama Islam di Gresik.
Kekayaan alam berupa hasil rempah-rempah yang melimpah, telah membawa nama Ternate menjadi kerajaan Islam yang penting di Maluku. Kerajaan Ternate mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah, dengan wilayah kekuasaan sampai Filipina.

10. Kerajaan Tidore
Selain Kerajaan Ternate, di Maluku pada abad ke-13 juga terdapat Kerajaan Tidore, yang terletak di sebelah selatan Kerajaan Ternate, yaitu di Pulau Tidore. Semula kedua kerajaan Islam tersebut bersatu, namun setelah masuknya bangsa asing, yaitu Portugis dan Spanyol, mereka tidak lagi bersatu. Kerajaan Ternate bersahabat dengan Portugis, dan Kerajaan Tidore bersahabat dengan Spanyol. Pada perkembangan berikutnya, Kerajaan Ternate dan Tidore bersatu kembali untuk mengusir Portugis dari Maluku, dan berhasil.
Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Luas wilayah Kerajaan Tidore hampir meliputi Pulau Seram, Pulau Halmahera, Kepulauan Kai, dan Papua.

PERKEMBANGAN PADA MASA ISLAM DI INDONESIA Rating: 4.5 Diposkan Oleh: ROBINN

0 komentar:

Posting Komentar