MASA KOLONIAL EROPA DI INDONESIA


A. PERAN INDONESIA DALAM PERDAGANGAN DAN PELAYARAN ANTARA ASIA DAN EROPA
Indonesia terlibat langsung dalam perkembangan perdagangan dan pelayaran antara Asia dan Eropa. Hal ini menyangkut dua faktor utama, yaitu letak geografis Indonesia yang berada pada jalur pelayaran Asia dan Eropa dan barang yang diperdagangkan, terutama rempah-rempah, berasal dari Indonesia.
Rempah-rempah dari Maluku berupa pala dan cengkeh, pada awalnya harus menempuh jalan yang bertahap-tahap dan memakan waktu yang lama sebelum sampai pada pasaran di Eropa. Dahulu rempah-rempah diangkut dari Maluku Utara ke Hitu dan Banda. Kemudian diangkut ke bagian barat Indonesia, yaitu ke pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa, pantai timur Sumatera, dan Selat Malaka. Dari Malaka dibawa ke India, terutama Gujarat yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka.
Perjalanan rempah-rempah lebih ke barat lagi melalui Laut Arab, ada dua jalan. Jalan pertama menuju ke Teluk Oman melalui Selat Ormuz lalu ke Teluk Persia. Jalan  kedua, melalui Teluk Aden, Laut Merah, dan Terusan Suez, disambung perjalanan darat ke Kairo dan Iskandariah. Rempah-rempah kemudian dibawa ke Aleppo yang merupakan pusat perdagangan penting di Eropa.
Pada tahun 1521, telah terbuka jalan laut yang menghubungkan Indonesia (Maluku) dengan Eropa Barat. Hal ini dilakukan oleh Sebastian Del Cano, yang membawa rempahrempah langsung dari Tidore ke Eropa.
Pusat-pusat perdagangan di Laut Tengah merupakan kawasan yang sangat sibuk dan ramai, yang dikunjungi banyak orang dalam kegiatan perdagangan dan pelayaran. Di kawasan Laut Tengah terdapat beberapa kota dan pelabuhan dagang yang cukup besar, yaitu Konstantinopel, Iskandariyah, Venesia, Genoa, dan Aleppo.
Pusat-pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah ini, erat hubungannya dengan kota-kota dagang di sekitarnya. Kota-kota dagang tersebut juga berhubungan dengan kotakota dagang utama di Eropa Selatan, Eropa Utara, maupun kota-kota pedalaman di Eropa. Di samping itu, tidak jarang orang-orang Eropa mendatangi langsung pusat-pusat perdagangan di Laut Tengah dalam rangka mendapatkan rempah-rempah. Padahal rempah-rempah tersebut didatangkan dari Asia.
Kesibukan dan keramaian di pusat-pusat perdagangan dan pelayaran di kawasan Laut Tengah juga ditunjukkan ketika Bangsa Sumeria berdagang menggunakan kereta kuda (karavan) melalui Asia Barat ke pesisir Laut Tengah. Juga saat barang-barang perdagangan yang berasal dari Eropa dan Afrika Utara, diangkut ke pusat-pusat perdagangan di pantai Laut Tengah melalui Mesopotamia dan Arabia.
Terkait hal-hal tersebut, maka pusat-pusat perdagangan dan pelayaran di kawasan Laut Tengah ternyata mempunyai peranan yang sangat penting, karena beberapa hal berikut.
- Sebagai pintu gerbang penghubung kegiatan perdagangan dan pelayaran antara Asia dan Eropa.
- Sebagai pusat perdagangan yang menyediakan dan memasok kebutuhan rempah-rempah untuk bangsabangsa Eropa.
- Sebagai kota persinggahan para pedagang yang akan melanjutkan perjalanannya lebih lanjut.
- Sarana tumbuhnya hubungan persahabatan dan kerjasama antar kota-kota dagang.
Peran penting yang disandang pusat-pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah berubah drastis ketika Konstantinopel dikuasai bangsa Turki pada tahun 1453. Sejak saat itu, bangsa Eropa menemui kesulitan untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan yang dulunya dipasok Konstantinopel. Akibatnya, mata rantai perdagangan dan pelayaran antara Asia dan Eropa yang melalui Konstantinopel menjadi putus. Kemudian bangsa Eropa mencari terobosan baru untuk menembus pusat-pusat perdagangan rempah-rempah di Asia. Bahkan berusaha menembus langsung ke sumber penghasil rempah-rempah di Indonesia, khususnya Maluku.
Secara geografis, letak wilayah Indonesia berada pada posisi silang, yaitu berada di antara dua benua (Benua Asia dan Benua Australia), dan diapit oleh dua samudera (Samudera Pasifik dan Samudera Hindia). Letak Indonesia pada garis khatulistiwa, menyebabkan Indonesia mempunyai curah hujan yang cukup dan sinar matahari sepanjang tahun. Kondisi alam ini telah melimpahkan kesuburan tanah di seluruh nusantara sehingga dapat menghasilkan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan bangsa lain, terutama bagi Asia dan Eropa. Ditambah dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah-ruah, menyebabkan timbulnya daya tarik yang luar biasa bagi bangsa-bangsa di belahan dunia ini.
Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dalam perdagangan dan pelayaran yang dilaksanakan oleh berbagai bangsa di belahan bumi ini, terutama bangsa-bangsa yang tinggal di kawasan Asia dan Eropa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan keberadaan Indonesia menjadi penting bagi perdagangan dan pelayaran antara Asia dan Eropa, yaitu sebagai berikut.
1. Kondisi geografis Indonesia, sangat strategis karena dilewati jalur perdagangan dan pelayaran antara Asia dan Eropa. Jalur laut yang lebih dikenal dengan nama Jalur Selatan, melalui sebelah selatan Asia. Jalur ini dimulai dari Cina, melalui perairan Indonesia dan Selat Malaka, menuju ke India. Jalur kemudian terpecah dua, satu ke Teluk Persia melalui Syria menuju Mediterania, dan jalur satunya melalui Laut Merah, Mesir, dan akhirnya sampai Mediterania dan Eropa.
2. Kekayaan alam Indonesia menghasilkan barang dagangan yang dibutuhkan di Eropa. Rempah-rempah dari Maluku sangat dibutuhkan di Eropa sehingga pelayaran melalui perairan Indonesia sambil membawa rempah-rempah dari Maluku untuk diperdagangkan di Eropa.
3. Faktor keamanan, jalur perdagangan dan pelayaran yang melewati perairan Indonesia relatif lebih aman, dengan ombak yang tidak begitu besar.
4. Indonesia merupakan mata rantai jalur perdagangan dan pelayaran antara Asia dan Eropa, yang keberadaannya sangat dibutuhkan.

B. KEDATANGAN BANGSA EROPA KE INDONESIA
Rempah-rempah yang diperdagangkan ke Eropa yang berasal dari Indonesia (Maluku) harganya sangat tinggi, karena sudah melalui beberapa tangan. Padahal harga yang sebenarnya di tempat asalnya sangat murah. Oleh karena itu, orang-orang Eropa  ingin mengambil dari tempat asalnya secara langsung.
Keinginan untuk mendapatkan rempah-rempah langsung dari produsennya atau dari tempat asalnya, telah mengundang  para pedagang Eropa ke Maluku. Kemudian Indonesia menjadi incaran para pedagang dari Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Kedatangan orang-orang Eropa ke Indonesia tidak sekedar berdagang, tetapi ada keinginan lain, yaitu mengambil alih kendali perdagangan dan menguasainya.
Pada saat itu, di Indonesia sudah berdiri sejumlah Kerajaan Islam, yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Maluku. Para penguasanya sekaligus berdagang dan memegang kendali perdagangan rempahrempah di wilayah masing-masing. Dengan datangnya bangsa Eropa ke Indonesia, dengan tujuan yang tidak diinginkan, jelas menimbulkan konflik yang berkepanjangan, yang tidak pernah terjadi sebelumnya, yaitu ketika bangsa Indonesia menjalin hubungan dagang dengan Cina, India, ataupun Arab.
Setelah jatuhnya Konstantinopel pada tahun 1453, bangsa Eropa yang paling terkena dampak buruknya berupa kesulitan ekonomi adalah bangsa Portugis dan Spanyol. Kemudian bangsa Portugis dan Spanyol mengadakan penjelajahan samudera untuk mencari kekayaan dan menggelar jajahan. Selanjutnya diikuti oleh bangsa-bangsa Eropa lainnya, yaitu Inggris dan Belanda.
Faktor-faktor yang mendorong bangsa-bangsa Eropa melakukan penjelajahan samudera menuju ke dunia Timur, termasuk Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Kisah perjalanan Marcopolo (1254-1324) seorang pedagang dari Venesia, Italia ke Cina yang dituangkan dalam buku Book of Various Experiences mengisahkan tentang keajaiban dunia atau Imago Mundi.
2. Jatuhnya Konstantinopel, ibukota Romawi Timur ke tangan Kesultanan Turki pada tahun 1453 menyebabkan putusnya hubungan dagang ke dunia Timur. Bangsa Barat berusaha mencari jalan sendiri ke pusat rempah-rempah di Asia.
3. Adanya semangat penaklukan terhadap orang-orang yang beragama Islam serta membuat daerah-daerah kekuasaan yang dimiliki kerajaan-kerajaan Islam tersebut.
4. Penemuan Coperticus yang didukung oleh Galileo Galilei yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Pendapat ini memperkuat keberanian para pelaut, karena orang yang berlayar ke dunia Timur tidak akan tersesat. Semakin ke Timur akan sampai ke tempat semula.
5. Ingin memperoleh keuntungan dan kekayaan sebanyak-banyaknya.
Kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke Indonesia membawa akibat dan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kehidupan masyarakat, kebudayaan, dan pemerintahan, karena ternyata kedatangan mereka tidak sekedar berdagang, namun sebagai penjajah.
1. Kedatangan Bangsa Portugis ke Indonesia
Kedatangan bangsa Portugis ke Indonesia mempunyai tiga tujuan sebagai berikut.
a. Tujuan ekonomi, yaitu mencari keuntungan yang besar dari hasil perdagangan rempah-rempah. Membeli dengan harga murah di Maluku, dan menjualnya dengan harga tinggi di Eropa.
b. Tujuan agama, yaitu menyebarkan agama Nasrani.
c. Tujuan petualangan, yaitu mencari daerah jajahan.
Tujuan tersebut lebih dikenal dengan gold, glory, gospel.
a. Gold, yaitu mencari emas dan mencari kekayaan.
b. Glory, yaitu mencari keharuman nama, kejayaan, dan kekuasaan.
c. Gospel, yaitu tugas suci menyebarkan agama Kristen.
Bangsa Portugis karena ingin mencapai tujuannya, segera melakukan serangkaian kegiatan penjelajahan. Di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque, ia bersama armadanya berhasil menguasai Malaka pada tahun 1511. Selanjutnya, pada tahun 1512 Portugis sudah berhasil menguasai Ternate, yaitu dengan mengadakan perjanjian dengan Kerajaan Ternate. Namun ternyata Spanyol  sudah bersekutu dengan Kerajaan Tidore. Akhirnya mereka bermusuhan.
Portugis dan Spanyol memang sama-sama ingin menguasai dunia. Mereka sudah dua kali membuat kesepakatan, yang pertama tahun 1494 dengan Perjanjian Thordesillas, dan yang kedua tahun 1526 dengan Perjanjian Saragosa.
Perjanjian Saragosa yang dipimpin oleh Paus, membagi dunia dalam dua wilayah kekuasaan.
- Daerah di sebelah utara garis Saragosa adalah penguasaan Portugis.
- Daerah di sebelah selatan garis Saragosa adalah penguasaan Spanyol.
Dengan adanya kesepakatan tersebut, Spanyol tidak berhak menguasai Tidore, dan harus segera kembali ke Filipina. Selanjutnya Portugis leluasa menguasai Maluku yang kaya akan rempah-rempah.
Setelah mendapat tempat dan berhasil menguasai Malaka dan Maluku, Portugis berusaha mendapat tempat lagi di Sumatera yang merupakan daerah penghasil lada terbesar. Namun usaha Portugis ini gagal, karena Kerajaan Aceh terlalu kuat dan pengawasan yang sangat ketat terhadap semua wilayah kekuasaannya.
Di Pulau Jawa, Portugis diterima dengan baik hanya di Pasuruan dan Blambangan saja, selebihnya di bawah pengaruh Demak yang tidak begitu senang terhadap Portugis. Di tempat lain di nusantara, Portugis hanya berhasil menetap di Timor saja.
2. Kedatangan bangsa Spanyol di Indonesia
Tujuan kedatangan bangsa Spanyol ke Indonesia sama dengan tujuan bangsa Portugis, yaitu mencari kekayaan, menyebarkan agama Nasrani, dan mencari daerah jajahan. Pada tanggal 8 Nopember 1521, kapal dagang Spanyol berlabuh di Maluku, setelah melalui Filipina, Kalimantan
Utara, kemudian langsung ke Tidore. Di sini bangsa Spanyol diterima baik oleh rakyat Tidore. Namun Portugis yang ada di Ternate merasa terancam dan tidak mau disaingi sesame bangsa Eropa, yang dianggap akan mengganggu monopolinya. Kemudian mereka bersengketa, dan dibuatlah perjanjian di Saragosa pada tahun 1526, yang menyebabkan Spanyol harus meninggalkan Tidore.
3. Kedatangan bangsa Inggris di Indonesia
Inggris mendirikan kongsi dagang yang diberi nama East Indian Company (EIC) pada tahun 1600. Pemerintah Inggris memberikan hak-hak istimewa kepada EIC. Pada abad ke-18, para pedagang Inggris juga sudah banyak yang berdagang di Indonesia. Bahkan sejak Belanda menjadi sekutu Perancis, Inggris selalu mengancam kedudukan Belanda di Indonesia.
Pada tahun 1811, Thomas Stamford Raffles telah berhasil merebut seluruh wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia. Raflles yang diangkat sebagai pemimpin Inggris atas wilayah Indonesia, memberikan kesempatan pada penduduk Indonesia untuk melaksanakan perdagangan bebas. Namun, kekuasaan Inggris tetap bersifat menindas bangsa Indonesia.
4. Kedatangan bangsa Belanda di Indonesia
Perang antara Belanda melawan Spanyol selama 80 tahun (1568-1648) telah mendorong Belanda untuk mencari daerah jajahan ke nusantara. Tujuan Belanda datang ke Indonesia, sama dengan bangsa-bangsa Eropa lainnya, yaitu mencari kekayaan, monopoli perdagangan, dan mencari daerah jajahan.
Belanda datang pertama kali ke Indonesia pada tahun 1596, di bawah pimpinan Cornelis de Houtman, dan berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Namun kedatangan Belanda diusir penduduk pesisir Banten karena mereka bersikap kasar dan sombong. Belanda datang lagi ke Indonesia dipimpin Jacob van Heck pada tahun 1598.
Pada tanggal 20 Maret tahun 1602, Belanda mendirikan kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), dengan tujuan sebagai berikut.
a. Menghilangkan persaingan yang merugikan para pedagang Belanda.
b. Menyatukan tenaga untuk menghadapi persaingan dengan bangsa Portugis dan pedagang-pedagang lainnya di Indonesia.
c. Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.
VOC menerapkan beberapa aturan paksa yang harus dilaksanakan oleh Indonesia. Bentuk-bentuk aturan paksa VOC yang diterapkan di Indonesia tersebut sebagai berikut.
a. Monopoli dagang.
b. Pajak yang harus dibayar dengan hasil bumi.
c. Penjualan paksa hasil bumi kepada VOC.
d. Pelayaran Hongi, yaitu wajib mendayung perahu VOC di perairan Maluku.
e. Aksi penebangan tanaman rempah-rempah milik rakyat.
f. Wajib menanam kopi di wilayah rakyat Priangan.
g. Wajib menyerahkan upeti berupa hasil bumi kepada kepala daerah yang telah menandatangani perjanjian dengan VOC.

C. PERKEMBANGAN MASYARAKAT, KEBUDAYAAN, DAN PEMERINTAHAN PADA MASA KOLONIAL EROPA
Kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia, mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda, sebenarnya yang paling lama dan menyeluruh serta berpengaruh terhadap seluruh kehidupan bangsa Indonesia, baik perkembangan masyarakatnya, kebudayaan, maupun pemerintahan, adalah ketika masa kolonial Belanda. Namun bukan berarti yang lain tidak membawa dampak sama sekali. Semua bangsa Eropa yang datang ke Indonesia, sebenarnya tidak ada yang menguntungkan, karena memang tidak ada kerja sama. Jika berbaik hati, imbalannya terlalu mahal dan hanya menguntungkan mereka saja.
1. Masa kolonial Portugis
Meskipun salah satu tujuan Portugis datang ke Indonesia adalah untuk mencari daerah jajahan, namun tujuan tersebut tidak dapat dikatakan berhasil. Portugis hanya dapat menguasai Ternate. Di Ternate bangsa Portugis berusaha merebut perdagangan cengkeh dan pala. Di daerah Maluku, Portugis berusaha menanamkan kekuasaannya. Namun hampir semua masyarakat menolak kehadirannya, karena sikap Portugis yang sombong. Dengan segala kekuasaannya, Portugis bertindak sewenang-wenang dan bertindak kejam terhadap rakyat. Akhirnya terjadi pertentangan antara rakyat Maluku dengan Portugis. Setelah rakyat sadar, mereka segera mengusir Portugis dari Maluku. Selama di Indonesia, Portugis pun gagal mempengaruhi Aceh.
Selama zaman kolonial Portugis di Indonesia, Portugis meninggalkan bekas-bekasnya di dalam kebudayaan Indonesia. Kebudayaan rohani yang ditinggalkan berupa penyebaran agama Katolik di Ambon. Banyak masyarakat Ambon yang akhirnya memeluk agama Katolik. Ini terlihat dari nama-nama yang meniru nama-nama bangsa Portugis, seperti De Fretes, Lopies, dan Diaz. Bangsa Portugis juga meninggalkan benda-benda yang akhirnya dianggap keramat oleh bangsa Indonesia, seperti meriam-meriam yang terkenal dengan nama Nyai Setomi di Solo, Si Jagur di Jakarta, dan Ki Amuk di Banten.
2. Masa kolonial Spanyol
Sebagaimana bangsa Portugis, Spanyol hanya berhasil mempengaruhi Kerajaan Tidore saja. Itupun tidak lama, karena setelah masyarakat Ternate dan Tidore bersatu, Spanyol juga diusir dari Maluku.
Perkembangan masyarakat, kebudayaan, maupun pemerintahan, sangat kecil pengaruhnya, karena masingmasing kerajaan yang ada tetap berjalan sebagaimana biasanya, tanpa terpengaruh kedatangan Spanyol ke Indonesia.Terlebih karena adanya perbedaan agama, semakin membuat jarak di antara bangsa Indonesia dan Spanyol.
3. Masa kolonial Inggris
Monopoli dagang yang diprogramkan oleh EIC, tidak sempat berkembang di Indonesia, karena Inggris segera terdesak oleh Belanda dengan kongsi dagangnya VOC. Meskipun hal tersebut terjadi pada awal mula bangsa Eropa masuk ke Indonesia, namun beberapa ratus tahun kemudian, Inggris pernah menjajah Indonesia ketika zaman Belanda. Saat itu Inggris dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Raffles.
Perkembangan masyarakat pada masa Raffles lebih baik dibandingkan pada saat kepemimpinan Daendels, sebab Raffles sangat memperhatikan masyarakat. Daendels adalah Gubernur Jenderal Belanda atas wilayah Indonesia. Meskipun hanya beberapa tahun memerintah di Indonesia, namun nama Raffles telah diabadikan sebagai nama bunga, yaitu bunga Rafflesia Arnoldi.
Tindakan yang dilakukan Raffles pada masa pemerintahannya adalah membagi daerah Jawa atas 16 daerah karesidenan, dengan tujuan mempermudah pemerintah melakukan pengawasan terhadap daerah-daerah yang dikuasainya. Di samping itu, Raffles juga membentuk susunan baru dalam pengadilan yang didasarkan pada pengadilan Inggris. Setelah Raffles selesai bertugas di Indonesia dan ditarik kembali ke Inggris, pemerintahan Indonesia kembali ke pangkuan penjajah Belanda.
4. Masa kolonial Belanda
Semenjak  Belanda menginjakkan kakinya ke bumi Indonesia pada tahun 1596, kemudian mereka mendirikan kongsi dagang yang diberi nama VOC, berarti Indonesia sudah mulai dijajah oleh Belanda.
Kepemimpinan VOC dipegang oleh dewan beranggotakan 17 orang yang berkedudukan di Amsterdam. Oleh pemerintah Belanda, VOC diberi oktroi (hak-hak istimewa) sebagai berikut.
a. Dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia.
b. Monopoli perdagangan.
c. Mencetak dan mengedarkan uang sendiri.
d. Mengadakan perjanjian dan melakukan perang dengan negara lain.
e. Menjalankan kekuasaan kehakiman dan melakukan pemungutan pajak.
f. Memiliki angkatan perang sendiri.
g. Mengadakan pemerintahan sendiri.
Untuk melaksanakan kekuasaannya di Indonesia, diangkatlah Gubernur Jendera VOC antara lain sebagai berikut.
a. Pieter Both, yaitu Gubernur Jenderal VOC pertama yang memerintah tahun 1610-1619 di Ambon.
b. Jan Pieterzoon Coen, yaitu Gubernur Jenderal VOC kedua  yang memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta (Batavia).
Timbulnya masalah keuangan yang dialami Belanda, mendorong Belanda mengirim Johannes Van den Bosch ke Indonesia dengan tugas meningkatkan penerimaan negara. Van den Bosch mengeluarkan peraturan tanam paksa (cultuur stelsel) di Indonesia untuk menambah penerimaan negaranya.
Tanam paksa adalah peraturan yang mewajibkan setiap desa utnuk menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi, tebu, dan nila. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial juga. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia Belanda pada tahun 1835 hingga 1940.
Kerasnya sistem tanam paksa, akhirnya memunculkan politik etis atau politik balas budi. Politik etis adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi. Pemikiran ini merupakan kritik terhadap politik tanam paksa.
Munculnya kaum etis yang dipelopori oleh Pieter Brooshooft (wartawan Koran De Locomotief) dan Conrad Theodor Van Deventer (politikus) ternyata membuka mata pemerintah kolonial untuk lebih memperhatikan nasib para pribumi yang terbelakang. Ratu Wihelmina menuangkan panggilan moral tersebut ke dalam kebijakan politik etis, yang terangkum dalam program Trias Politika.
Program Trias Politika meliputi
a. irigasi, yaitu membangun dan memperbaiki pengairan dan bendunan untuk pertanian,
b. emigrasi, yaitu mengajak penduduk untuk transmigrasi,
c. edukasi, yaitu memperluas bidang pengajaran dan pendidikan.
Dari ketiga program tersebut, hanya edukasi yang berarti bagi Indonesia. Dunia pendidikan dan pengajaran menjadi berkembang dengan berdirinya sekolah-sekolah, baik untuk kaum priyayi maupun rakyat biasa yang hamper merata di daerah-daerah.
Perkembangan masyarakat selama penjajahan yang beratus-ratus tahun itu berlangsung secara statis, tidak ada perkembangan atau kemajuan. Masyarakat memang sengaja dibodohkan atau tidak diberi kesempatan untuk tidak bodoh, tidak miskin, dan tidak terbelakang. Dalam kehidupan yang serba tertekan, kehidupan masyarakat yang sangat ketinggalan dan jauh dari kehidupan layaknya manusia, menyebabkan tidak adanya perkembangan kebudayaan. Apa saja yang muncul senantiasa dibinasakan oleh penjajah Belanda.
Terlebih masalah pemerintahan, begitu liciknya Belanda dalam mengabadikan pencengkeraman penjajahannya di Indonesia. Segala cara dilakukan, terutama dalam memecah belah persatuan dan kesatuan. Bangsa ini tercabik-cabik dan tidak mempunyai kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeramannya. Namun setelah saatnya tiba dengan segala pengorbanan dan perjuangan, kesempatanpun datang, dan kita dapat menjadi bangsa yang merdeka.

MASA KOLONIAL EROPA DI INDONESIA Rating: 4.5 Diposkan Oleh: ROBINN

1 komentar:

  1. Bagus artikelnya.. padat dan berisi, semoga selau sehat, rejekinya tambah banyak dan sehat selalu.. salam sukses buat teman-teman semua..amiin
    Tempat Kursus website, SEO, Desain Grafis Favorit 2015 di
    jakarta
    Tempat Kursus website, SEO, Desain Grafis Favorit 2015 di jakarta

    BalasHapus